Also Available in:

Ateisme membutuhkan evolusi

Apakah evolusi ‘terlepas’ dari faktanya?

oleh
penerjemah Ellyzabeth

Atheism-needs-evolution

Pertanyaan akan asal usul (darimana semuanya itu berasal) hanya ada dua jawaban yang mungkin. Apakah alam semesta muncul dengan sendirinya atau sebaliknya. Jika muncul dengan sendirinya, maka dalam hal ini secara nyata evolusi kosmis-lah yang telah berperan. Jika tidak muncul dengan sendirinya, maka seharusnya ada Pencipta. Tidak ada pilihan ketiga.1

Banyak orang sepertinya sangat yakin bahwa teori evolusi didasarkan pada analisa fakta yang kasar bahwa dengan membuktikan evolusi secara jelas telah menjadi proses yang nyata selama adanya sejarah. Sebagaimana Richard Dawkins, yang dikatakan sebagai seorang busur evolusi mengatakan:

[Anda] telah memiliki jutaan bukti sehingga tidak ada orang yang dengan alasan apapun dapat menghindari perselisihan.2

Namun demikian, setiap orang memiliki asal dari awal kepercayaannya tentang pertanyaan asal usul, suatu prasangka yang diterima hanya karena hal itu benar, tanpa bukti atau suatu kebenaran. Bahkan jika seseorang mengatakan bahwa asal dari awal kepercayaannya sebagai bukti analisa dari koleksi fakta-fakta yang membawa mereka kepada rasa percaya yang demikian, maka keadaan tersebut akan tetap seperti itu bahwa akar dari sistim kepercayaan mereka akan terus sebagai titik pangkal yang tidak dapat didukung lebih jauh lagi.

Seorang penganut evolusi, Michael Ruse mengaku dengan yakinnya ketika dia berkata:

[E]volusi, sama dengan agama, melibatkan untuk memastikan suatu prasangka atau asumsi metafisik, yang mana pada level tertentu tidak dapat dibuktikan secara teori.3

Sebagai contoh abstraknya, jika seorang mengatakan “Saya percaya A,” dan seorang lagi bertanya “Mengapa?” dan yang menjawab mengatakan “Karena si B,” maka mereka tidak dapat terus melakukan yang demikian (kemunduran yang tak terbatas). Bisa saja kita melanjutkan hurufnya (karena si ‘C,’ karena si ‘D’ dsb) tetapi cepat atau lambat kita harus berhenti dan berkata “Saya percaya karena saya percaya.” Pada akhirnya, seseorang akan berhenti di titik dimana kita tidak dapat justify kepercayaan tersebut dengan yang lainnya – jika tidak, kepercayaan yang lain itu akan menjadi kepercayaan yang ‘akhir.’

Ketika seseorang telah mengadopsi titik pangkal tertentu, maka biasanya data yang lainnya diproses melalui ‘saringan’ tersebut, termasuk di dalamnya pandangan dunia mereka.4

Evolusi ’berbeda’ dengan ateisme

Bagi seorang ateis, titik pangkal merupakan kepercayaan yang aktif dalam ide ‘Tidak adanya Tuhan’ (a-theos), selain daripada tuntutan revisionisme bahwa hal ini hanyalah ketiadaan akan kepercayaan dalam Tuhan. Jika seseorang memulai dengan premise yang demikian, maka apakah penafsiran logika dan penjelasan akan fakta umum yang kita teliti (alam semesta, bumi, keberagaman hidup, uji coba manusia, dsb) itu sebenarnya?

5 poin akan kepercayaan ateisme

  1. (Naturalisme). Sangat jelas jika seseorang harus percaya bahwa sesuatu timbul melalui proses naturalis, karena asumsi akhirnya adalah tidak adanya pikiran, tidak adanya perancang yang cerdas, atau ‘tangan yang membimbing’ untuk meminta bantuan.

  2. (Sederhana menuju kerumitan). Percaya bahwa alam semesta kita dengan kompleksitas yang begitu luas dapat terbentuk sedemikian rupa adalah sesuatu yang tidak mungkin. Oleh karena itu, seharusnya telah ada sesuatu yang telah ada, bahkan diasumsikan demikian, perubahan yang begitu besar pada waktu yang sebelumnya. Proses yang demikian pastilah telah menyebabkan perubahan dari sesuatu yang sederhana kepada sesuatu yang lebih rumit.

  3. (Dalam waktu yang begitu lama). Untuk menghitung adanya keragaman yang luas dari benda-benda yang ada di alam semesta kita ini, maka semua proses tersebut pasti terjadi selama masa waktu yang terbilang ‘begitu lama.’

  4. (Manusia merupakan keberadaan yang mandiri). Karena manusia dianggap berasal melalui proses alami yang tidak dibimbing maka oleh karena itu, kita bukanlah lebih khusus daripada ‘di atas rantai makanan.’ Jika terdapat rasa moralitas ataupun etika di dalam kita maka hal ini dianggap sebagai bagian dari perkembangan naturalis kita dan oleh karenanya, tidaklah dianggap sesuatu yang pasti.

  5. (Evolusi). Penutup akhirnya adalah segala sesuatu yang kita alami merupakan hasil dari suatu proses yang mana dapat disebut sebagai ‘ciptaan sendiri.’5 (Ingatlah bahwa walaupun ‘ciptaan sendiri’ dalam keadaannya yang paling benar merupakan ide yang tidak jelas (karena sesuatu tidak dapat berfungsi sebelum terjadi), seorang seperti Lawrence Krauss yang adalah ateis baru, sebenarnya mengusulkan sesuatu yang dianggap omong kosong yang tidak ilmiah sama sekali).

Jadi semua elemen inti dari teori evolusi yang utama (kosmologis, geologis, kimia, biologis dan evolusi manusia) hanyalah sebuah logika, hasil kerja filosofis sebagai konsep dasar dari ateisme yang klasik yang mana teraplikasi di dunia kita ini. Semua kesimpulan tersebut dapat diambil dari kepercayaan umum yang sederhana bahwa Allah tidak hadir (ateisme), karena pengaruh dari bukti fisik tertentu atau apapun itu. Selanjutnya, mengarahkan setiap fakta yang mana dapat ditafsirkan menurut pandangan tersebut di atas. Hal ini kemudian dihubungkan untuk menciptakan sebuah sejarah tentang alam semesta yang mendukung kepercayaan-kepercayaan tersebut di atas.

Awal kebenaran yang paling akhir ini berstatus sama sepanjang sejarah. Ide evolusi bukanlah suatu konsep modern. Mesir kuno, penduduk Babel, Himdu, Yunani dan Romawi, kesemuanya memiliki ide berjuta tahun dan/atau evolusi biologi dalam kepercayaan mereka, dimana semuanya tanpa aces kepada fakta yang umumnya dipegang sekarang ini sebagai bukti evolusi (kolom geologi, DNA, seleksi alami, radioisotop dating, fosil hominid dsb).

Melihat lebih jauh akan contoh modern, kakek Charles Darwin, yang mana seorang ateis, Erasmus Darwin, menganut dan menerbitkan penjelasan dunia akan naturalisme (dalam bukunya Zoonomia [1794]) kira-kira 65 tahun sebelum yang dilakukan oleh Charles. Hal ini termasuk ide yang mengatakan bahwa bumi dibentuk dari ledakan kosmik, kehidupan dimulai dari laut, yang secara progresif menjadi lebih rumit dan lambat laun berkembang menjadi manusia, dan bahwa semuanya ini terjadi selama berjuta-juta tahun lamanya. Sekali lagi, ingat bahwa semua asumsi tersebut disimpulkan tanpa ‘bukti’ yang lazim ditunjukkan oleh para evolusi sekarang ini.

Mengapa seseorang harus memulai dengan konsep ateisme?

Alkitab mengatakan bahwa orang yang belum diperbarui adalah orang yang memberontak terhadap Allah. Bentuk penolakan akhirnya adalah menolak keberadaan mereka (sehingga ungkapannya adalah “Bagi saya, Anda telah mati”). Akhirnya, ada orang-orang yang menolak Allah hingga pada titik menolak keberadaan-Nya. Penolakan terhadap Allah sering dilambangkan oleh kalimat ateis yang terkenal, Nietzsche “Allah itu mati.”

Walaupun ada orang yang sepanjang sejarah telah menyatakan dirinya sebagai seorang ateis, namun konsep yang dipegang selalu dianggap dipertanyakan oleh pemikir yang cerdas (dianggap karena ilmu ilmiah dan filosofi yang tidak masuk akal, dan indikasi moral yang sangat jelas dari sistim tersebut). Misalnya, Sir Isaac Newton (tidak disangkal lagi sebagai seorang ilmuwan yang paling hebat yang pernah ada) pernah mengatakan:

Pertentangan terhadap kesalehan adalah bentuk ateisme dalam profesi dan pemberhalaan dalam prakteknya. Ateisme sangatlah tidak berperikemanusiaan dan menjijikkan bagi manusia sehingga tidak akan memiliki banyak profesor.6

Banyak yang memiliki kesan yang salah bahwa evolusi itu sendiri adalah ‘ilmiah.’ Pada dasarnya, bukan hanya ilmuwan saja yang memegang teori evolusi Darwin. Namun orang-orang (apakah yang memiliki pikiran ilmiah atau bukan) yang tergolong dalam kelompok naturalisme dan ragu akan Alkitab-lah yang sebenarnya mendukung Darwin.

Pertentangan terhadap Darwin mulai dilakukan oleh para ilmuwan hebat. Termasuk di dalamnya seorang ahli fisika, James Clerk Maxwell (penemu elektromagnetisme),7 Louis Pasteur (pelopor imunisasi dan pengembang hukum biologi yang mendasar [Biogenesis],8 Lord Kelvin (pelopor termodinamika dan trans telegraf Atlantik),9 dan Louis Agassiz (penemu geologi glasial modern) menolak Darwin.

Seorang ahli matematika, ahli astronomi dan Kumpulan Masyarakat Kerajaan Sir John Herschel menolaknya sebagai ‘hukum higgledy-pigglety.’10 Richard Owen selaku pengawas Museum British dari Departemen Sejarah Alam, sangat kesal terhadap Darwin dan keberatannya terhadap teori Darwin akhirnya diketahui oleh Darwin bahwa Owen tidak menyukainya!11 William Whewell, seorang ilmuwan filosofi yang terkenal (seorang pengarang buku ‘Sejarah Ilmu Induktif’), melarang aslinya dari perpustakaan Cambridge. Dan juga adanya penghapusan ahli geologi Alkitab yang juga menolak teori Darwin serta teori ‘berjuta tahun’ tentang sejarah bumi.

Banyak yang berpendapat bahwa teori Darwin sangatlah tidak ilmiah. Profesor Johann H. Blasius, direktur Sejarah Alam Ducal dari Museum Braunschweig (Brunswick), Jerman, dalam sebuah wawancaranya mengatakan, “Saya sangat jarang menemukan dalam bacaan saya, buku ilmiah yang membuat kesimpulan yang begitu luas dengan fakta yang begitu sedikit untuk mendukungnya. … Darwin ingin menunjukkan bagian itu dari bagian yang lain.”12,13

Sebaliknya, seorang yang ‘berpikiran bebas’ seperti misalnya Charles Lyell, yang ingin “membebaskan ilmu ilmiah dari Musa,” penganut agnostis Thomas Huxley, seorang yang terkenal jahat dalam hal memalsukan sesuatu Ernst Haeckel,14 (seorang yang telah memiliki pemikiran yang begitu dalam akan anti-Alkitabiah tentang asal-usul, dan membenci pertentangan Alkitab terhadap rasisme) yang mendukung sepenuhnya akan buku-buku Darwin. Bahkan pengadopsi awal yang datang dari pandangan teologia (seperti misalnya seorang teistik evolusionis, Asa Gray dan seorang ahli teologi rasisme Charles Kingsley) sepertinya mempengaruhi penjelasan naturalisme akan penciptaan dalam menerima teori Darwin.

Dari awal Masa Abad Pertengahan ilmiah yang berbuah hingga kira-kira 200 tahun yang lalu, pandangan utama Dunia Barat terutama didasarkan pada Kekristenan dan cerita Alkitabiah dan konsep hukum dan moral yang hancur dari sini. Sekarang sudah berbeda, karena Kekristenan dan Alkitab hampir-hampir di luar kehidupan masyarakat pada umumnya. Mengajar dari Alkitab, dan bahkan mempromosikan moral Alkitabiah, adalah sesuatu yang benar-benar dilarang di banyak tempat dan hanya ada satu pandangan akan asal-usul manusia (evolusi) yang diajarkan di mayoritas sekolah-sekolah umum.

Jadi kita dapat melihat mengapa begitu banyak orang yang percaya pada teori evolusi sekarang ini, karena negara yang menjalankan sistem sekolah dan media di seluruh dunia Barat mengajarkan hal tersebut sebagai ‘fakta’ dan ‘ilmu ilmiah’ untuk mempengaruhi anak-anak dengan mudah di seluruh dunia. Hingga pada tiitk dimana pengajaran evolusi merupakan konsep yang mengabadikan diri sendiri. Karena ide evolusi mendukung pandangan dunia akan naturalisme daripada pandangan teistik, hal ini berarti bahwa banyak (bahkan orang-orang yang tidak di sekolah umum sekalipun yang mengaku percaya pada Tuhan) menyimpulkan bahwa ateisme adalah benar dan mengadopsinya sebagai titik pangkal mereka.

Namun demikian, evolusi tidak terlepas dari ‘faktanya.’ Orang-orang akan melakukan yang terbaik untuk mengkaji ulang titik pangkal ateisme. Dugaan dari ‘bukit-bukti’ yang dipakai untuk mendukungnya melalui evolusi semata-mata tidak menyimpulkan (sebagaimana buku kita yang baru sebagai pemenang penghargaan dan dokumenter, Evolution’s Achilles’ Heels, menunjukkan). Dimulai dengan pandangan Alkitabiah, apa yang kita lihat dalam dunia Allah sesuai dengan apa yang kita lihat dalam Firman-Nya dengan sedikit bantuan dari ‘faktor kecurangan’ yang umum dalam penjelasan evolusioner tentang asal usul.

Artikel-artikel yang Berhubungan

Bacaan Selanjutnya

Referensi dan catatan

  1. Ingat bahwa evolusi teistik (ide yang mengatakan bahwa Allah memakai evolusi untuk menciptakan) bukanlah pilihan ketiga yang benar sebagaimana hal ini masih menuntut Pencipta di dasar keberadaan. Kembali ke teks.
  2. “Si Jenius Charles Darwin (Episode 3): Richard Dawkins, Saluran 4 (Inggris), Senin 18 Agustus 2008.” Kembali ke teks.
  3. Salinan pembicaraan yang lengkap tersedia secara online di arn.org/docs/orpages/or151/mr93tran.htm dan dicetak di: Young, C.C. dan Largent, M.A., Evolusi dan Penciptaan: Sebuah Dokumenter dan Panduan Referensi, halaman 253–260. Kembali ke teks.
  4. Tentu saja memungkinkan untuk mengubah titik pangkal Saudara. Kembali ke teks.
  5. Ingat bahwa ada banyak nama-nama yang berbeda dan mekanisme yang diusulkan bagi konsep generik akan ‘evolusi’; evolusi Darwin, evolusi Neo-Darwin, Equilibrium yang Disamakan, teori Chaos dsb. Bahkan ada evolusi bumi datar! Kembali ke teks.
  6. Principia, Buku III; dikutip dalam; Filosofi Alam Newton: Seleksi dari tulisannya, halaman 42, ed. H.S. Thayer, Perpustakaan Klasik Hafner, NY, 1953. Kembali ke teks.
  7. Lamont, A., James Clerk Maxwell (1831–1879)Penciptaan 15(3):45–47, 1993; creation.com/maxwell. Kembali ke teks.
  8. Lamont, A., Louis Pasteur (1822–1895), Ilmuwan ternama dan lawan evolusi, Penciptaan 14(1):16–19, 1991; creation.com/pasteur. Kembali ke teks.
  9. Woodmorappe, J., Lord Kelvin kembali melihat usia bumi yang muda, Jurnal Penciptaan 13(1):14, 1999; creation.com/kelvin. Kembali ke teks.
  10. Bowlby, J., Charles Darwin: Kehidupan yang baru, W.W. Norton & Company, New York, halaman 344, 1990. Kembali ke teks.
  11. Darwin, F., Seward, A.C. (Ed.), Surat-surat yang lain dari Charles Darwin, Vol.1, halaman 226–228, 1903 sebagaimana dikutip pada Bowlby, halaman 352. Kembali ke teks.
  12. Wawancara direktur Blasius: “Evolusi hanyalah sebuah Hipotesa,” 1859, dikutip dalam Braunschweiger Zeitung, 29 Maret 2004. Kembali ke teks.
  13. Wieland, C., Ledakan dari masa lalu, creation.com/blasius, 16 Juni 2006. Kembali ke teks.
  14. van Niekerk, E., Melawan revisionisme bagian 1: Ernst Haeckel, fraud terbukti, Jurnal Penciptaan 25(3):89–95, 2011; bagian 2: Ernst Haeckel dan pencetakan tiga potong kayunya, Jurnal Penciptaan 27(1):78–84, 2013. Kembali ke teks.

Helpful Resources

Evolution's Achilles' Heels
by Nine Ph.D. scientists
From
US $10.00
The Greatest Hoax on Earth?
by Dr Jonathan Sarfati
From
US $15.00
Christianity for Skeptics
by Drs Steve Kumar, Jonathan D Sarfati
From
US $17.00