Share 0
Share
A- A A+
The Genesis Account
by Jonathan Sarfati

US $35.00
View Item
The Genesis Account
by Jonathan Sarfati

US $20.00
View Item
The Genesis Account
by Jonathan Sarfati

US $20.00
View Item
The Young Earth, Revised & Expanded
by John Morris

US $20.00
View Item
Refuting Compromise, updated & expanded
by Dr Jonathan Sarfati

US $10.00
View Item
The Geologic Column
by John K Reed, Michael J Oard

US $15.00
View Item
The Age of the Earth


US $10.00
View Item
Rapid Rocks


US $8.00
View Item
The Dating Game


US $6.50
View Item
The Dating Game


US $5.00
View Item

Apakah Allah Menciptakan Dalam Kurun Waktu Milyaran Tahun?

Dan Mengapa Hal Ini Penting?

Oleh Lita Cosner dan Gary Bates
Diterjemahkan oleh Sostenis Tan

Geologic-time

Seringkali, orang-orang menantang para pendukung penciptaan yang Alkitabiah (kreasionis) dengan komentar, “Saya percaya bahwa Allah yang menciptakan, dan saya tidak percaya kepada teori evolusi, namun bisa saja Allah menciptakannya dalam kurun waktu milyaran tahun, jadi apa pentingnya memperdebatkan umur bumi itu sendiri?” Beberapa mengklaim pada penekanan ‘6 hari lamanya, 6.000 tahun yang lalu’ hanya semakin menjauhkan orang dari iman, lalu “Mengapa harus terlalu dogmatik?” Mengapa terlalu kukuh menekankan sesuatu yang bukanlah masalah keselamatan?”

Mungkin ini akan menjadi suatu kejutan bahwa kami setuju – dalam satu hal. Jadwal waktu dalam dan dari penciptaan bukanlah hal yang penting. Lantas mengapa CMI menekankan hal tersebut? Hal ini penting karena masalah ini pada akhirnya bermuara kepada “Apakah Alkitab sungguh-sungguh memaksudkan apa yang secara jelas ia katakan?” Dan oleh sebab itu hal ini pada intinya mengarah kepada sifat yang dapat dipercaya dari Kitab Suci. Dengan demikian, mengkompromikan dengan masa yang panjang juga secara fatal merusak keseluruhan pesan Injil, yang menyebabkan krisis iman bagi banyak orang dan juga masalah-masalah besar lainnya bagi penginjilan.

Implikasi dari Jadwal Waktu Masa Panjang

Pertama, kita perlu memahami darimana konsep bumi tua tersebut berasal. Ide tentang jutaan atau milyaran tahun jelas-jelas tidak tercantum di bagian Kitab Suci manapun; melainkan sebuah konsep yang berasal dari luar Alkitab. Pada tahun 1830, Charles Lyell, seorang pengacara berkebangsaan Skotlandia, menerbitkan bukunya Prinsip-prinsip Geologi (Principles of Geology). Ia menyatakan bahwa salah satu tujuannya adalah “Untuk melepaskan sains (geologi) dari Musa.”1 Ia mendasarkan ide-idenya tersebut dari ide-ide ahli geologi lainnya, James Hutton, yang menganjurkan interpretasi uniformitarianisme dari geology dunia. Lyell memperdebatkan bahwa lapisan sedimen sedalam ribuan kaki (diletakkan oleh air atau cairan yang mengalir lainnya) di seluruh bumi adalah hasil dari proses yang lama, lambat dan bertahap selama jutaan atau milyaran tahun (bukannya proses dari Air Bah zaman Nuh). Ia meyakini bahwa proses yang sekarang ini diamati haruslah digunakan untuk menjelaskan sejarah geologi bumi. Artinya, jika saat ini kita melihat sungai-sungai di bawah sedimen pada laju rata-rata, katakanlah 1 milimeter pertahun, maka sebuah lapisan dari bebatuan sedimen semisal batu pasir yang tebalnya 1,000 meter (3.300 kaki) haruslah membutuhkan waktu sekitar 1 juta tahun untuk dapat terbentuk. Asumsi ‘keadaan sekarang menjadi kunci mengenai keadaan masa lalu’ ini dan (jenis-jenis asumsi lainnya) adalah landasan dari teori geologi moderen. Teori ini termasuk di dalamnya penolakan terhadap pertanggungan jawab Alkitabiah mengenai bencana air bah. Masa berjuta-juta tahun yang dihitung pada berbagai lapisan pada ‘kolom geologi’ telah diadopsi sejak lama sebelum munculnya metode-metode penanggalan radiometrik – bahkan sebelum radioaktivitas ditemukan.

Image by Daniel Smartt

Namun disinilah letak permasalahan teologisnya. Lapisan-lapisan bebatuan tersebut bukan hanya mengandung batu-batu atau butiran-butiran di dalamnya. Mereka juga mengandung fosil. Dan fosil-fosil tersebut adalah bukti-bukti terbantahkan dari kematian – dan bukan hanya sekedar kematian, tetapi yang disebabkan oleh karnivora, penyakit dan penderitaan. Terdapat sisa-sisa yang memiliki bekas gigitan, bahkan ada hewan yang menjadi fosil ketika sedang memakan hewan lain. Ada bukti mengenai penyakit, kanker, dan infeksi; dan penderitaan umum dari luka-luka, tulang yang patah, dll. Secara Alkitabiah, kita memahami bahwa semua ini baru mulai terjadi setelah Kejatuhan. Namun oleh karena silsilah terperinci di dalam Alkitab, tidak mungkin Adam yang ditulis dalam Alkitab telah ada berjuta-juta tahun yang lalu, sebelum kematian dan penderitaan mulai muncul dalam jangka waktu uniformitarian. Implikasi dari kepercayaan usia panjang adalah Allah menetapkan kematian sebelum Kejatuhan manusia, namun Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa tindakan Adam lah yang mendatangkan maut ke dalam dunia (Roma 5:12).

Allah dari Bumi yang Tua

Ide mengenai kematian telah terjadi dalam penciptaan sebelum Kejatuhan memiliki implikasi yang besar mengenai karakter Allah. Masalah yang sama timbul ketika seseorang berpikir bahwa Allah menggunakan evolusi untuk mencipta. Evolusi adalah proses acak dan sia-sia yang membutuhkan jutaan mahluk hidup yang ‘tidak layak’ untuk mati. Bentuk-bentuk tradisional yang tak terhitung jumlahnya tentunya akan bermunculan, hanya untuk jatuh sebagai korban dalam mars besar ‘ke depan’. Pada beberapa kasus, Allah yang diduga ‘baik’ ini memerintahkan lotere kematian yang pada akhirnya menghasilkan manusia, lalu kemudian Allah melihat pembawa peta dan teladanNya, berdiri di lapisan paling atas dari lapisan-lapisan bebatuan yang mengandung milyaran sisa-sisa bangkai, dan memproklamasikan seluruh ciptaanNya – bersamaan dengan bukti dari segala kematian dan penderitaan yang terlibat di dalam penciptaan tersebut – ‘amat baik’ (Kejadian 1:31). Jadi kita dapat memahami bahwa umur lama tidaklah sesuai dengan pandangan Alkitabiah, terlepas dari seseorang percaya atau tidak kepada teori evolusi yang terkandung di dalamnya.

Menyimpulkan hal ini, umur dari bumi yang ditentukan dari lapisan-lapisan bebatuan, yang mengandung fosil di dalamnya, menempatkan kematian, penderitaan dan penyakit sebelum Kejatuhan. Alkitab sendiri dengan jelas menuliskan bahwa tidak ada kematian sebelum Adam (Roma 5:12)

Injil dari Bumi yang Tua

Death pain
 Di akhir hari ke-6 Allah berfiman Ia telah menyelesaikan penciptaan dengan “amat baik”. Jika seandainya evolusi memang benar, mungkinkah Adam dan Hawa telah sedang berdiri di atas makam fosil dari kematian dan bergumul selama jutaan tahun yang Allah sebut “amat baik”. Alkitab menerangkan bahwa maut adalah musuh terakhir yang dihancurkan.

Beberapa dugaan para ‘ahli’ mencoba mengelakkan isu ‘amat baik’ ini dengan berkata bahwa Kejatuhan hanya menyebabkan kematian dan penyakit pada manusia. Hal ini tentu saja salah. Satu hal yang pasti, Roma 8:19-22 dengan jelas mengajarkan bahwa kutukan maut dan penderitaan sebagai konsekuensi dari Kejatuhan Adam mempengaruhi “keseluruhan ciptaan” , yaitu seluruh alam semesta fisik.

Di akhir hari ke-6 Allah berfiman Ia telah menyelesaikan penciptaan dengan “amat baik”. Jika seandainya evolusi memang benar, mungkinkah Adam dan Hawa telah sedang berdiri di atas makam fossil dari kematian dan bergumul selama jutaan tahun yang Allah sebut “amat baik”. Alkitab menerangkan bahwa maut adalah musuh terakhir yang dihancurkan.

Bahkan jika kita kesampingkan hal tersebut untuk tujuan berargumentasi, terdapat masalah yang lain, karena kita memiliki sisa-sisa manusia yang ‘ditanggalkan’ ratusan ribu tahun umurnya. Ini baik sebelum kemungkinan tanggal untuk Adam, yang menempatkannya di Taman sekitar 6.000 tahun yang lalu. Banyak posisinya yang berkompromi melihat sisa-sisa ini sebagai mereka yang ‘orang-orang pra-Adam’ – binatang-binatang bukan manusia yang tidak berjiwa. Namun rangka-rangka tersebut sama dengan rata-rata ukuran manusia normal. Contohnya Neanderthal, menunjukkan tanda-tanda kesenian, kebudayaan, dan bahkan kepercayaan. Dan baru-baru ini, urutan DNA Neanderthal sesungguhnyamenunjukkan bahwa kebanyakan dari kita sekarang mewarisi gen Neanderthal – yaitu kita jenis sama yang diciptakan. Menyebut mereka sebagai ‘binatang bukan manusia’ tampaknya merancang secara keseluruhan untuk menyelamatkan sistem kepercayaan umur lama.

Juga, Roma 5:12menyatakan bahwa “dosa telah masuk ke dalam dunia melalui satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa”. Ini tidak menunjukkan indikasi bahwa Kejatuhan hanya menyebabkan kematian manusia. Untuk memutarbalikkan interpretasi dari Roma 5 dengan mengatakan bahwa maut hanya terbatas kepada manusia akan bermakna bahwa dosa Adam hanya membawa separuhKejatuhan kepada ciptaan Allah; namun Roma 8:19-20memberitahukan kepada kita bahwa keseluruhanciptaan mengerang di bawah beban dosa dan tunduk kepada kesia-siaan. Dan Kejadian 3:17-19memberitahukan kepada kita dasar yang paling bawah dikutuk sehingga ia menghasilkan semak duri.2 Hanya jika Kejatuhan separuh terjadi, maka mengapa Allah menghancurkan segala ciptaan untuk membawa hal yang baru ketimbang sebuah restorasi yang separuh? Mengapa tidak hanya merestorasi manusia jika ciptaan yang lainnya masih dalam keadaan ‘amat baik’?

Kematian, Musuh Terakhir

Bagian inti dari Injil adalah dihancurkannya musuh terakhir yaitu kematian. (1 Korintus 15:26). Maut atau kematian masuk ke dalam dunia yang sempurna akibat dosa, dan ini adalah hal yang sangat serius sehingga kemenangan Tuhan Yesus atas maut tidak dapat secara menyeluruh dimanifestasikan ketika satu orang percaya ada di dalam kubur. Kita diharapkan untuk percaya bahwa sesuatu yang dijelaskan oleh para penulis Alkitab sebagai musuh digunakan atau diawasi oleh Allah selama jangka waktu milyaran tahun dan disebut sebagai “amat baik”?

Suatu bagian besar dari Injil adalah pengharapan yang kita miliki di dalam Kebangkitan ini dan pemulihan dari ciptaan kepada keadaannya yang semula yaitu sempurna. Alkitab menyatakan dengan jelas mengenai Langit Baru dan Bumi Baru sebagai suatu tempat dimana tidak ada lagi pemakan daging, kematian, penderitaan, dan dosa (Yesaya 65:17-25; Wahyu 21:1-5) Akan tetapi bagaimana mungkin hal ini disebut sebagai pemulihan jika keadaan semula itu sendiri tidak pernah ada?

Seorang pendeta Anglikan yang menganut evolusi memberikan sebuah kesimpulan yang baik mengenai arti menerima konsep kematian sebelum Kejatuhan bagi teologi Kristen:

“… Fosil adalah sisa-sisa dari ciptaan yang hidup dan mati selama milyaran tahun sebelum Homo Sapiens berevolusi. Kematian sama tuanya dengan kehidupan itu sendiri namun dalam sepersekian detik. Oleh sebab itu dapatkan hal tersebut menjadi hukuman Allah atas dosa? Catatan fosil mendemonstrasikan bahwa beberapa bentuk kejahatan telah ada sepanjang waktu. Dalam skala yang luas, hal tersebut terbukti dalam bencana alam. … Dalam skala individu terdapat cukup bukti tentang kesengsaraan, penyakit yang melumpuhkan dan aktivitas parasite. Kita melihat bahwa mahluk hidup telah menderita sekarat, radang sendi, tumor, atau sekedar dimangsa oleh ciptaan yang lainnya. Dari awal waktu, kemungkinan kehidupan dan kematian, kebaikan dan kejahatan, telah ada. Tidak ada penghentiannya; tidak pernah ada waktu dimana kematian itu muncul, atau masa dimana kejahatan mengubah sifat dari alam semesta. Allah menciptakan dunia sebagaimana adanya… evolusi sebagai alat perubahan dan keanekargaman. Orang-orang mencoba memberitahukan kepada kita bahwa Adam memiliki hubungan yang sempurna dengan Allah sampai ia berbuat dosa, dan yang perlu kita lakukan adalah bertobat dan menerima Tuhan Yesus untuk dapat memulihkan hubungan mula-mula tersebut. Namun kesempurnaan seperti ini tidaklah pernah ada. Tidak pernah ada dunia sedemikian. Mencoba kembali kepadanya, baik dalam realita maupun spiritual, hanyalah sebuah khayalan. Sayangnya hal ini adalah inti dari kebanyakan khotbah penginjilan.”3

Sehingga, siapapun dapat melihat lereng licin yang terjadi jika kita mengijinkan konsep penciptaan milyaran tahun, terlepas ia melibatkan evolusi atau tidak, karena ia menempatkan kematian dan penderitaan sebelum Kejatuhan. Kewajaran logisnya adalah ia juga menempatkan kejahatan sebelum Kejatuhan (yang kemudian tidak lagi hadir dalam pemandangannya, sedemikian, sebab tidak ada titik yang daripadanya akan terjadi kejatuhan). Dan di dalam prosesnya ia mengesampingkan harapan untuk kembali kepada keadaan semula yang sempurna, sebab tidak dapat terjadi pengembalian kepada sesuatu yang memang tidak pernah ada. Dalam prosesnya pun Injil sendiri telah dirusakkan.

Kalau bukan maut, penderitaan, dosa, dan keterpisahan dari Allah, lalu Tuhan Yesus datang untuk menyelamatkan kita dari apa? Apa yang akan kita lakukan terhadap tulisan seperti Ibrani 9:22, yang mengatakan “…dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hokum Taurat dengan darahm dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan”. Jika kematian dan penumpahan darah terjadi sebagai proses ‘alami’ selama jutaan tahun sebelum Adam? Jika ini adalah kasusnya, maka kematian Kristus menjadi tidaklah penting dan tidak mampu untuk menjadi tebusan untuk dosa-dosa kita. Lantas apakah yang menjadi harapan kita jika bukan Kebangkitan dan Langit Baru dan Bumi Baru?

Jika maut adalah peristiwa alami, mengapa kita berdukacita atasnya? Mengapa kita tidak dapat menerima kematian sebagai hal yang ‘biasa’ dari kehidupan? Pandangan ini merampas kuasa dari Injil dan signifikansi dari pengorbanan Tuhan Yesus. Mengikuti pemikiran ini kepada kesimpulan alaminya telah menyebabkan banyak orang secara bersamaan meninggalkan iman Kekristenan.

Dampaknya terhadap Gereja

Pengajaran meluas mengenai evolusi memiliki dampak yang mengerikan bagi generasi muda kita, yang berbondong-bondong meninggalkan gereja. Orang-orang Kristen yang ‘bertahan di sana’ namun menerima konsep jadwal waktu milyaran tahun akan menghadapi masa-masa yang jauh lebih sulit dalam mempertahankan iman Kristen mereka, sehingga dengan demikian, menghambat pertumbuhan gereja. Salah satu batu sandungan terbesar terhadap iman adalah pertanyaan: “Mengapa Allah mengijinkan semua kematian dan penderitaan terjadi di dunia?” Kelompok orang percaya demikian tidak akan mampu secara memadai menjelaskan asal mula kematian dan penderitaan sebagai akibat dari dosa manusia.

Sebaliknya, orang percaya yang memiliki pandangan Alkitabiah mengenai sejarah dunia memiliki dasar logis untuk mengenalkan Allah kepada mereka yang tidak memiliki latar belakang Kitab Suci. Selentingan dengan hal ini, bertepatan dengan pendekatan yang digunakan oleh rasul Paulus ketika berkhotbah kepada pendengar yang tidak mengenal Allah (Kisah Para Rasul 14:15-17; 17:23-31). Di Listra, Paulus menggunakan penciptaan sebagai kunci untuk mengidentifikasi faktor yang memisahkan Allah dan manusia asali seperti dirinya dan Barnabas. Dan di Atena ia mengambil orang-orang tabah dan filsuf-filsuf dari masa ‘kembali ke kitab Kejadian’ untuk meletakkan dasar untuk mengenalkan kepada Allah yang sejati kepada mereka dengan harapan bahwa mereka akan berpaling dari baal-baal mereka yang sia-sia.

What about these ideas?

Could the days in Genesis be long periods of time?

Are there gaps between Genesis 1:1 and 1:2?

Is a ‘soft gap’ defensible?

Is Genesis just a literary framework?

Is Genesis Poetry?

Is the seventh day eternal?

Isn’t ‘a day like a thousand years’ to God?

Doesn’t Genesis 2:4 use a ‘non-literal’ day?

Were there literal days before the sun?

Could the days of Genesis be ‘days of revelation’?

Aren’t there two contradictory creation accounts?

Is ‘Progressive Creation’ biblical?

Jika keyakinan kepada Alkitab sebagaimana tertulis secara gamblang menguatkan kemampuan seseorang dalam menjelaskan Injil, dan mengkompromikannya dapat berdampak merusak sedemikian, lantas mengapa ada orang yang memilih berkompromi? Pada praktiknya setiap pemimpin atau teolog Kristen yang meletakkan alasan-alasannya untuk mempercayai usia lama ketimbang jangka waktu Alkitabiah harus mengakui bahwa kitab Kejadian – ketika membaca nilai nominal, baik dalam terjemahan Bahasa Ibrani maupun Bahasa Inggris (atau bahasa Indonesia) – mengajarkan mengajarkan proses penciptaan selama 6 hari biasa lamanya. Dan hal ini dengan penuh kuasa didukung oleh Keluaran 20:11, bagian dari Kesepuluh Perintah, yang menunjukkan bahwa hari-hari dalam kitab Kejadian dipahami sebagai waktu panjang hari biasa, tanpa ada ruang untuk masa jutaan tahun and kesenjangan di dalam teks untuk menyelipkan hal tersebut. Namun sayangnya mereka menerima bahwa sains entah bagaiman ‘membuktikan’ jutaan tahun, yang sebenarnya bukan itu persoalannya.

Kekristenan yang Tidak Konsisten?

Meskipun tidak menutup kemungkinan untuk menjadi seorang Kristen dan mempercayai bumi tua, hal tersebut mengindikasikan bahwa orang tersebut, entah belum memikirkan matang-matang dampaknya, atau Alkitab bukanlah menjadi otoritas tertinggi dalam keimanannya. Jika kitab Kejadian bukanlah tulisan sejarah yang benar-benar terjadi, bagaimana mungkin seseorang dapat mengetahui di bagian mana sebenarnya di dalam Alkitab kebenaran baru dimulai? ‘Sains’ masa kini juga ‘membuktikan’ bahwa manusia tidak bangkit dari kematian. Jadi, jika kita menyetujui sains yang sama tersebut untuk menyatakan kepada kita bahwa Tuhan Yesus tidak bangkit dari kematian (yang berarti kekonsistenan dalam pandangan orang-orang berkompromi) maka “sia-sialah pekabaran Injil dan sia-sialah imanmu”, sebagaimana yang ditulis oleh Rasul Paulus (1 Korintus 15:14). Meletakkan kepercayaan kita kepada filsafat karangan manusia mengingatkan kita kepada seorang yang Tuhan Yesus gambarkan dalam Matius 7:26ketika Ia berkata: “Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan orang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.” Sebaliknya, dalam ayat 24-25 Ia menyatakan: “setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.”

Dan oleh karena Tuhan Yesus jelas-jelas mempercayai tulisan sejarah kitab Kejadian, maka kitapun harus mempercayainya.

Artikel-artikel yang Berhubungan

References

  1. Charles Lyell, personal letter to George Poulett Scrope, 14 June 1830; see creation.com/Lyell. Kembali ke teks.
  2. Interestingly, the fossil record contains thorns. A conventional interpretation of the fossil record (which denies the global Flood) places them at ‘hundreds of millions’ of years before any human being. See W.N. Stewart and G.W. Rothwell, Paleobotany and the Evolution of Plants (Cambridge, UK: Cambridge University Press, 1993), p. 172–176. Kembali ke teks.
  3. Tom Ambrose, ‘Just a pile of old bones’, The Church of England Newspaper, A Current Affairs section, 21 October 1994. Kembali ke teks.

We support belief in an intelligent designer—the God of the Bible. This site was also ‘intelligently designed’. But rather than six days, it’s taken thousands of days. Help us design more information for this site. Support this site

Comments closed
Article closed for commenting.
Available only from day of publication.
Copied to clipboard
10585
Product added to cart.
Click store to checkout.
In your shopping cart

Remove All Products in Cart
Go to store and Checkout
Go to store
Total price does not include shipping costs. Prices subject to change in accordance with your country’s store.